HIROSHIMA Ketika Bom Dijatuhkan

hiroshimaJudul Buku : HIROSHIMA Ketika Bom Dijatuhkan

Penulis :   John Hersey

Penerbit : Komunitas Bambu

Harga : Rp 40.000,00

ORDER BY SMS : 08561 865 355

“Seratus ribu orang terbunuh oleh bom atom dan keenam orang ini adalah sebagian dari mereka yang selamat. Mereka masih saja bertanya-tanya, mengapa mereka tetap hidup ketika begitu banyak orang lain mati…”

Mereka adalah korban yang berhasil bertahan hidup pasca ledakan bom di Hiroshima, Jepang pada 6 Agustus 1945 silam. Keenam orang itu adalah Nona Toshiko Sasaki, Dokter Masazaku Fujii, Nyonya Hatsuyo Nakamura, Pastur Wilhelm Kleinsorge, Dokter Terufum Sasaki, dan Pendeta Kiyoshi Tanimoto.
Pengalaman keenam orang ini ketika bom atom dijatuhkan menjadi fokus utama dalam buku ini. Sebelum detik-detik kehancuran, Nona Toshiko Sasaki sedang berbincang dengan gadis di sebelahnya, tepatnya di ruang kantor Perusahaan Timah Asia Timur. Di waktu yang sama Dokter Masazaku Fujii sedang duduk bersila di teras rumah sakit swasta miliknya.
Nyonya Hatsuyo Nakamura, seorang janda yang kesehariannya bekerja sebagai penjahit, sedang berdiri dekat jendela dapurnya. Di lain tempat, Pastur Wilhelm Kleinsorge, seorang pendeta Jerman sedang berbaring di tempat tidurnya sambil membaca majalah Penginjilan, Stimmen der Zeit. Ia hanya berpakaian dalam saja.
Dokter Terufumi Sasaki, anggota muda bagian bedah Rumah Sakit Palang Merah yang besar dan modern di Hiroshima, sedang berjalan di salah satu koridor rumah sakit. Ia sedang berjalan di salah satu koridor rumah sakit. Pendeta Kiyoshi Tanimoto, pendeta Gereja Metodis Hiroshima yang akan membongkar muatan barang di sebuah gerobak.
Beberapa detik kemudian, keenam orang ini, merasakan hal yang sama. Sebuah cahaya yang amat sangat terang menerpa mata mereka, kemudian disusul dengan runtuhnya bangunan di sekitarnya. Mereka pun tidak luput dari reruntuhan. Dan dari sinilah, mereka menyadari bahwa mereka masih sadar dan berusaha melepaskan diri dari puing-puing bangunan.
Pada awal cerita, ketika bom atom dijatuhkan, tidak begitu terasa seberapa besar bom itu menyebabkan kerusakan dan penderitaan bagi rakyat Hiroshima. Namun, pembaca tidak patut kecewa. Karena cerita mencekam dan mengerikan itu disajikan pada pertengahan buku, ketika keenam orang tersebut berusaha bangkit, menolong orang-orang yang mengalami luka bakar hingga seluruh kulitnya memerah dan bernanah.
Deskripsi kejadian yang penulis gambarkan serasa begitu nyata. Penulis begitu kreatif memadu-padankan alur cerita beserta klimaks. Cerita tentang beberapa tentara Jepang yang terbaring tak berdaya sambil berteriak “saya tidak bisa melihat apa pun,” karena memang bola matanya telah tiada, wajahnya rusak parah, membuat saya merinding seketika.
Lalu cerita tentang Dokter Sasaki yang kehilangan kacamatanya, dan terpaksa mengambil kacamata seorang perawat rumah sakit yang telah tewas lalu menggunakannya. Dengan keadaan mata yang tidak cukup jelas karena kacamata perawat itu tidak sesuai dengan kebutuhannya, Dokter Sasaki mengobati lebih dari 10.000 pasien yang memiliki luka ringan atau berat.
Tentang Tuan Fukai, juga memilukan. Ia juga salah seorang korban yang berhasil selamat, dan dibopong oleh Pendeta Kleinsorge. Sepanjang perjalanan ia dibopong, ia meronta-ronta, ingin lepas dari Pendeta Kleinsorge. Ketika ia berhasil melepaskan diri, ia kemudian berlari entah kemana. Konon katanya, ia kembali mendekati api yang masih menyala, kemudian membakar dirinya. Tuan Fukai pernah berkata, “Jepang tengah sekarat, dan aku akan mati bersama negeriku.”
Klimaks cerita pengeboman Hiroshima ini dibuat tidak usai pada endingnya, sehingga pembaca musti menerka sendiri, bagaimana kehidupan Hiroshima sebulan pasca bom atom dijatuhkan Amerika sebagai paksaan terhadap Jepang agar Jepang menyerah pada Perang Dunia II. Karena kejadian ini, rakyat Jepang sempat membenci Amerika setengah mati.
Hikmah dari cerita Hiroshima ini, begitu banyak. Hiroshima adalah kisah nyata enam orang yang berjuang pada saat-saat tersulit di Jepang ketika bom dijatuhkan. Ini adalah kisah yang menggambarkan hidup di tengah konflik peperangan. Kisah yang akan membuat kita mensyukuri hidup kita sekarang.

Hiroshima memiliki empat bab dalam ceritanya yaitu A Noiseless Flash (Kilat Tanpa Suara), The Fire (Api), Details are being Investigated (Perinciannya sedang Diselidiki), Panic Grass and Feverfew (Panic Grass dan Tanaman Feverfew).

About these ads

Ditandai:,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.127 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: